(ilustrasi cafe, pict by: instagram.com/archetics)
Jum'at kemarin siang disebuah kafe yang sedang tutup, saya bersama ibu sedang menunggu si kecil pulang sekolah. Disaat itu saya dipertemukan dengan sebuah pemandangan yang seketika menghantam harga diri saya.
Ketika saya sedang mengobrol dengan emak, tiba-tiba datang seorang lelaki. Penampilannya biasa saja, pakai topi pet dan celana jins. Dia menghampiri kami dan menanyakan alamat seseorang.
"Kenal sama Anu ya, katanya tinggal disekitar sini? Biasa dipanggil bang Fulan?"
Langsung saya jawab: "Wah maaf bang, saya bukan orang sini, kita lagi jemput anak disini".
Kita jadi ngobrol, tapi lebih banyak dia sih yang memancing pembicaraan. Dia bilang rumahnya jauh, dia terpaksa jalan kaki karena ga punya uang. Ongkos yang sedianya untuk ojeg dipakai buat beli beras. Entah kenapa dia jadi curhat masalah keluarganya, tentang istrinya yang sudah meninggal dan anak-anaknya yang masih bersekolah, sampai kepada persoalan uang sekolah anaknya yang sudah 2 bulan nunggak katanya. Ya terang aja kita yang dengar jadi terenyuh. Apalagi sampai dia bilang hari ini harus dapat pekerjaan, agar pulang bisa beli beras buat makan dia dan anak-anaknya.
Namun yang bikin tanda tanya, katanya almarhumah istrinya lulusan sekolah agama, dan istrinya dipanggil ummi oleh anak-anaknya. Berarti dia orang agamis, tapi kok penampilannya pasaran gitu, pakai topi pet, celana jins dan merokok pula? Tapi ah, saya tepis buruk sangka tersebut.
Kami kemudian bercerita panjang lebar. Lelaki itu sedang berikhtiar mencari pekerjaan, apa saja, asal halal. Saya jadi ingat bahwa sekolah tempat anak saya, butuh penjaga sekolah, kenapa tak coba melamar, kata saya. Dia jawab mau saja, tapi dia butuh pekerjaan yang hari itu juga dapat uangnya.
Wah susah kalau gini...
Lantas saya ingat lagi, kenapa dia tak mencoba berjualan Batagor seperti saya dulu. Saya katakan kepadanya, "Abang coba datangi Bang Tony, dia juragan Batagor, coba jualin batagornya, abang bisa dapat uang hari itu juga?". Saya beritahu alamatnya.
Dia menyanggupinya tapi entahlah seperti tak bersungguh-sungguh.
"Oh benarkah bang? Nanti saya kesana", jawabnya.
Curiga ada, kasihan pun ada. Curiganya: Zaman sekarang itu zaman modus, susah cari orang yang jujur dan polos. Apalagi dengan ciri-ciri seperti yang saya katakan diatas. Tapi saya tak boleh langsung tuduh tanpa bukti. Makanya saya mencoba baik sangka dan tetap waspada.
Sekiranya lelaki tadi benar seperti yang dia ceritakan, saya jelas terhenyak. Ujiannya tak main-main lho, istrinya sudah meninggal dunia, ia harus menghidupi anak-anaknya sendirian. Dan yang paling perih, hari itu... tak ada sebutir beras pun di rumahnya.
Bisa bayangkan? Di saat kita mungkin masih bingung mau makan lauk apa, di luar sana ada seorang ayah yang bingung karena anak-anaknya mungkin sedang menahan lapar di depan periuk kosong.
Kejadian ini seolah menjadi surat cinta sekaligus teguran dari Allah untuk saya (dan mungkin untuk kita semua). Kadang saya merasa menjadi orang paling malang karena keadaan anak saya atau jualan batagor berhenti atau motor harus dijual atau ditinggal pergi orang yang saya cintai.
Tapi saat itu Allah tunjukkan: Ada yang ujiannya jauh lebih berat. Setidaknya saya masih punya Emak yang sehat, anak saya juga sehat dan kami masih bisa makan.
Wallahu'alam. Tapi kata Ustadz, tak ada yang kebetulan didunia ini, semua sudah diatur oleh-Nya.
Melihat ini, saya berembuk dengan ibu dan menyarankan agar memberi uang kepada pemuda tersebut. Emak pun tergerak hatinya. Beliau merogoh dompetnya dan memberikan uang 50 ribu rupiah kepada lelaki tersebut.
Betapa gembira si pemuda tadi, seolah tak percaya. Wajah yang tadinya mendung itu seketika berubah. Ada binar kegembiraan yang sangat tulus saat ia menerima uang tersebut. Mungkin dia tak percaya hari itu dapat rezeki. Dia berulang mengucapkan terima kasih dan menyalami kami. Saya tepuk pundaknya sambil berkata, "Ini rezeki abang, semoga nanti abang dapat pekerjaannya ya?".
Terlepas pemuda tadi modus atau tidak, ya sudahlah, kita tak tahu, mungkin saja dia benar-benar membutuhkan pertolongan. Saya katakan kepada emak, jangan khawatir, pahala emak tak hilang sekalipun dia modus, kebaikan kita tergantung niat. Emak tetap dapat pahala saya katakan kepada beliau.
Pertemuan kemarin menyadarkan saya bahwa serumit apa pun hidup yang sedang saya jalani, saya masih sangat beruntung. Walau pun faktanya masih beeeraaat sekali kondisi saya saat ini.
Jujur saya akui kejadian tadi adalah hikmah dan tamparan bagi saya, tapi saya tetap berat mengakui bahwa saya itu ikhlas dan bersabar serta menerima keadaan. Berkata sabar itu mudah, tapi menjalaninya itu super berat.
Saya pandangi kepergian pemuda itu dan membatin dalam hati, "Masing-masing orang punya ujiannya, semoga jalan keluar membentang di tengah kegalauan dan ketidak pastian ini".
(Abinya Fathan, 13 Feb 2026)
Tags:
Catatan Abi
