Pagi Itu dan Mantan Penjual Batagor

Pagi itu dan Mantan Penjual Batagor
Pagi itu udara terasa segar, seperti biasa saya menuntun si kecil belajar mengayuh sepedanya. Mumpung sekolah sedang libur menyambut Ramadhan. Setiap hari libur pun saya manfaatkan untuk melatihnya. Alhamdulillah si kecil sudah bisa menjaga keseimbangan, tanpa bantuan lagi roda penyangga kiri dan kanan sepedanya.

Saat sedang fokus mengawal si kecil bersepeda, di kejauhan mata saya menangkap sosok pria yang seperti tak asing. Rasanya kenal, tapi siapa? Sampai akhirnya setelah dekat, dia tersenyum dan mengulurkan tangan, "Apa kabar bang?" tanyanya?

Oh dia rupanya. Orang yang pernah memenuhi pikiran saya dengan mimpi-mimpi besar, namun juga orang yang meninggalkan ganjalan di hati karena ada hak saya yang belum dia tunaikan.

Dengan pura-pura tak kenal saya menjawab, "Siapa ya?"

Saya sambut juga jabatan tangannya.

"Saya bang, (dia menyebutkan namanya), dulu pernah antar abang", jawabnya.

"Oh, lagi ngapain sekarang? Masih jual batagor?" tanya saya.

"Engga bang, saya sekarang udah kerja", jawabnya.

Saya lihat dia memang sudah rapi, menyandang tas di pundaknya. Sepertinya memang mau berangkat kerja. Ternyata dia tinggal satu gang dengan saya. Alahmak, bikin makin tak nyaman saja rasanya.

Dulu, dia adalah penumpang setia saya. Dia pernah memakai jasa saya (antar jemput motor) dngan tarif 60 ribu. Saat menerima tawaran antar jemput ini rasanya bahagia sekali. Dalam susahnya mencari pekerjaan / penghasilan, tiba-tiba datang dengan hasil yang menjanjikan.

Dia penjual batagor, bukan pemilik, hanya menjajakan dagangan orang lain. Tapi ceritanya tentang penghasilan 150 ribu per hari (bahkan diatasnya) membuat mata saya berbinar. Siapa yang tidak tergiur? Angka itu jauh melampaui apa yang biasa saya dapatkan dari ikhtiar sehari-hari. Pantas saja dia mampu membayar saya 60 ribu sekali antar jemput.

Batagor yang dia jual, pemiliknya adalah temannya. Makanya gajinya fantastis, tapi memang dagangan batagornya laris manis, sehari dia mampu menjual 500 batagor, bahkan lebih.

Kebayang, pengen rasanya bisa kerja kayak gitu. Tapi saya segan bertanya. Malu lah, pasti jawabannya belum ada lowongan, pikir saya. Tapi bak pucuk dicinta ulam pun tiba, suatu hari dia menawarkan saya bergabung dalam penjualan Batagor ini.

"Abang uda dapat kerja? Kalau belum, mau ga kerja seperti saya?"

Dalam hati, saya sudah bersorak. Pikiran saya melayang jauh: "Inilah jalan itu!". Akhirnya, saya bisa kasih nafkah buat istri, membelikan jilbab syar'i dan baju gamis untuk istri, membelikan mainan baru untuk si kecil, dan tabungan sekolah yang lebih layak untuknya. Saya mengiyakan tawaran itu tanpa ragu, dengan semangat yang meluap-luap.

Belum apa-apa saya sudah tenggen duluan (bahasa Medan artinya mabok) . Ya maklumlah, susahnya cari kerjaan, dan tahu-tahu ada jalan, ya semangatlah.

Saya dijanjikan akan diberikan gerobak baru, dan lokasi penjualan sudah ditetapkan. Gerobak saya akan siap sebulan lagi, kata si toke batagor.

Namun, hidup seringkali tidak bisa kita prediksi dan kita atur. Baru saja saya membayangkan puncak sukses, jualan batagor yang dia kelola mulai seret. Semakin hari, semakin sepi. Imbasnya fatal, hingga suatu ketika dia tak sanggup membayar ongkos jasa motor saya. Saya yang tadinya sudah nyaman dengan penghasilan tambahan, mulai merasakan dampaknya.

Hanya dua minggu saya bisa mengantar-jemputnya secara rutin. Sampai pada suatu hari, penjualannya benar-benar anjlok. Begitu hancurnya kondisi keuangannya saat itu, hingga dia tak mampu lagi membayar penuh ongkos ojek saya. Tidak cuma itu, tawaran kerja yang saya nantikan pun menguap begitu saja.

Yang paling mengagetkan, dia dan keluarganya memutuskan untuk pindah rumah (pindah kontrakan). Tujuan dia pindah rumah, agar bisa dekat dengan rumah bos batagor tadi. Jadi dia tak perlu mengeluarkan ongkos lagi untuk berjualan.

Dari sebuah informasi, saya ketahui, dia pindah ke lokasi yang dekat dengan lokasi jualan batagornya, tujuannya agar tidak ada biaya transportasi lagi.

Pindah sih pindah, mbok ya hutang dibayar dulu. Lunasi dulu hutangmu. Ada sisa pembayaran ongkos motor saya yang belum dia bayar. Jerih payah keringat saya itu.

Rasanya bukan hanya pendapatan yang hilang, tapi mimpi-mimpi saya juga ikut runtuh. Bayangan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak dan istri seolah pupus. Hati saya hancur, merasa gagal sebagai kepala keluarga hanya karena sebuah harapan yang tak kunjung terwujud.

Sejak saat itu, setiap tarikan gas motor saya terasa lebih berat. Uang hasil ojekan berkurang, dan saya kembali ke titik nol, bergelut dengan aspal yang semakin hari semakin sulit diprediksi hasilnya.

Melihat dia kembali pagi ini, membuka kesedihan lama. Kesal itu masih ada, apalagi dia tampak tidak ingat sama sekali dengan hutang lamanya. Seakan santai, tak ingat pernah mengecewakan orang. Yang paling nyesek, lihat dia udah kerja, sementara saya masih luntang lantung begini. Orang ada perubahan, kenapa saya begini-begini aja?

Saya sadar dengan kejadian ini (udah lama sih). Mungkin mimpi besar jualan batagor itu memang bukan jalan saya. Mungkin Allah ingin menjauhkan saya dari bahaya yang saya tidak mengetahuinya. Bukan disitu rezeki saya.

Hidup memang tak selalu tentang impian yang terwujud, tapi tentang seberapa kuat kita tetap berdiri saat impian itu sirna. Besok, saya akan bangun lagi, bangkit dan berjuang lagi. Life must go on, kata orang kulon bilang.

Lamunan saya buyar saat melihat si kecil memandangi saya yang sedang terbengong-bengong.

"Siapa itu Yah?", tanya si kecil.

"Ah teman ayah. Capek Nak? Kita masuk yuk?" ajakku.

Dengan langkah lesu saya tuntun si kecil dan sepedanya masuk ke rumah. Fikiran saya selalu terngiang-ngiang dengan kalimat yang selalu saya ingat: Jangan bandingkan hidup orang lain, pencapaiannya dan rezekinya dengan dirimu. Fokuslah pada tanah yang sedang kau pijak. Kau tak tahu apa yang sudah Allah ambil dari orang tersebut, dan kau juga tak tahu apa yang akan Allah beri untukmu. Biarkan takdir yang menentukan kapan kelopak kesuksesanmu akan terbuka.

Difan

Menulis itu bukan karena kita tahu banyak, tapi karena banyak hal yang ingin kita tahu

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan sopan dan santun

Previous Post Next Post