Anakku Penderita Hernia, Hipospadia, sekaligus Disleksia dan Disgrafia

Saya ceritakan perihal ini di blog bukan untuk protes sama Allah (naudzubillah), semoga Allah Azza Wa Jalla memaafkan saya. Ini hanya bentuk dokumentasi perjalanan hidup saya dan mungkin bisa sebagai pelipur lara bagi orang tua yang mempunya buah hati dengan kondisi sama seperti anak saya.

Tentang Hipospadia dan Hernia, saya sudah ceritakan ini di blog saya, sila dilihat lagi bagi yang belum baca disini.

Anak saya (qadarullah) terlahir tidak dalam kondisi normal seperti anak-anak kebanyakan (walau anak saya bukan termasuk cacat dan authis). Dari si kecil lahir, perawat sudah mendeteksi bahwa anak saya dalam kondisi kelainan penis (Hipospadia). Kisahnya silakan anda baca di link tadi, saya buat artikel bersambung.

Operasi demi operasi dilewati oleh anak saya selama lima tahun. Tak terbayang lagi bagaimana kesedihan saya. Ya, anda bayangkan saja, saat selesai operasi dan biusnya habis, dia mengerang kesakitan. Kalau anak usia 10 tahun mungkin masih bisa saya terima, ini masih berumur 3 tahun sampai 5 tahun, dia harus menahan sakit yang seharusnya tidak dia rasakan.

Namun Alhamdulillah di awal 2024 sebelum Ramadhan, si kecil (nama panggilan anak saya di blog ini) sudah selesai operasinya. Kami bisa bernafas lega. Kisahnya juga bisa anda baca di postingan sebelumnya.

Cobaan ternyata tidak sampai disitu. Di tahun 2024 saya merasakan kesedihan yang belum pernah saya alami seumur hidup (nanti saya ceritakan), tapi bisa anda lihat kisah singkatnya disini (di postingan sebelumnya). Tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan saat ini.

Cobaan lain: Ternyata si Kecil mendapatkan kelainan lain, dalam istilah medisnya disebut Disleksia dan Disgrafia. Hal ini terdeteksi saat dia memasuki sekolah dasarnya. Sejak dari TK sudah mulai nampak gejala-gejala tersebut, seperti sukar membaca dan menulis. Si kecil di Taman Kanak-kanaknya sama sekali tidak bisa membaca dan menulis, bahkan dia tidak bisa melakukan aktifitas-aktifitas seperti perlombaan, senam dan lainnya.

Apa itu Disleksia dan Disgrafia

Disleksia dan disgrafia adalah gangguan belajar berbasis saraf yang memengaruhi pemrosesan bahasa, namun berbeda fokus: disleksia pada kesulitan membaca dan mengeja, sedangkan disgrafia pada kesulitan menulis fisik dan motorik halus. Keduanya bukan karena kecerdasan rendah, melainkan perbedaan cara kerja otak, serta membutuhkan penanganan khusus dan dukungan emosional agar anak berpotensi maksimal.

Dan gejala ini semakin terlihat saat si kecil ingin memasuki sekolah dasar. Setelah tamat dari TK, anak saya belum juga bisa membaca dan menulis, sementara kawan-kawannya sudah mulai bisa mengeja bahkan ada yang bisa calistung (membaca, menulis dan berhitung).

Orang tua mana yang tak risau melihat buah hatinya seperti ini. Sementara waktu untuk masuk sekolah tinggal beberapa minggu lagi. Tahu sendiri, syarat untuk masuk sekolah dasar: anak harus sudah bisa baca tulis (gila engga), jelas gila, sekali lagi saya katakan GILA...!!!

Saya aja dulu masuk sekolah dasar, ga bisa apa-apa, belum bisa baca, belum bisa menulis, NOL...!!! Tapi dari nol itu lah para guru pelan-pelan mengajari kami anak-anak muridnya sampai bisa. Ga dipaksa kayak sekarang ini.

Saya panik lihat anak saya yang belum bisa membaca dan menulis, bukan karena dia malas, tapi memang anak saya kesulitan untuk bisa belajar. Akhirnya kami (ayah dan neneknya) memutuskan untuk memasukkan si kecil bimbingan les belajar baca dan tulis.

Ya Alhamdulillah detik-detik beberapa hari lagi si kecil masuk sekolah, tiba-tiba dia bisa mengenal beberapa huruf dan mulai berani menulis. Dibantu dengan titik-titik yang menghubungkan huruf dan angka, si kecil bisa menulis walau masih terbata-bata. Tapi ini bukan karena dia dibantu bimbingan les (lha guru lesnya aja takjub saat si kecil bisa mengeja dan menulis). Tidak ada pengaruh bimbingan les kepada belajar si kecil, karena untuk anak Disleksia dan Disgrafia membutuhkan terapi khusus.

Saya ga tahu apa penyebab si kecil tiba-tiba bisa mengeja dan mulai menulis? Saya yakini, ini pertolongan Allah Azza Wa Jalla.

Namun bukan berarti si kecil bisa langsung menulis dan membaca. Sampai sekarang, masih di kelas 1 SD, dia masih belum fasih membaca dan menulis. Memang sih, jika dibandingkan awal-awal masuk sekolah dengan sekarang ada terlihat peningkatannya. Si kecil sekarang sudah mengenal semua huruf dan angka, dia sudah bisa baca kalimat-kalimat pendek, tapi kalau kalimat-kalimat panjang masih mengeja dan terbata-bata. Menulis pun jarinya sudah kuat menggenggam pensil, tapi tulisannya masih carut marut, miring kanan, miring kiri, tapi ya Alhamdulillah sudah ada progres, walau masih jauh dari yang diharapkan.

Saat Si Kecil Diusir Oleh Gurunya

Ada kisah sedih disini (saya cerita dikit ya), karena keadaan kondisi Disleksia dan Disgrafia si kecil, dia "diusir" oleh gurunya. Anak saya waktu itu masuk di sekolah dasar negeri. Tahulah sekolah dasar negeri, anak murid harus cekatan, harus menonjol, harus aktif, harus sudah bisa baca dan menulis. Si kecil tidak seperti anak normal kebanyakan, dia harus dibantu, didukung, disupport, tapi sang guru tak tahu keadaan anak saya, dia anggap si kecil kurang bergaul dan kurang dalam belajar.

Karena neneknya sering minta tolong kepada guru wali kelasnya agar si kecil lebih diperhatikan, sang guru merasa terganggu dan terbebani serta menganggap si kecil kami itu anak emas yang harus diperlakukan beda. Hingga sampai di satu kejadian yang membuat kami bertengkar dengan sang guru. Dia mengusir anak kami dengan mengatakan, "Kalau tak mau sekolah disini silakan cari sekolah lain, masih banyak anak-anak lain yang mau masuk disini".

Emak saya (nenek si kecil) tidak terima dengan perlakuan si guru. Dia tak kan biarkan cucunya tetap bersekolah di sekolah negeri tersebut setelah mendapat perlakuan yang tak mengenakkan.

Saya sebenarnya tidak masalah si kecil tetap bersekolah disana, saya katakan kepada emak, biarkan saja si guru judes tadi, ga usah diperdulikan, tapi emak sudah kadung terusik harga dirinya. Emak saya itu sangat sayang kepada cucunya. Saat itu juga kami putuskan untuk memindahkan sekolah si kecil.

Aktifitas belajar anak sekolah sudah berjalan 2 minggu. Pendaftaran sudah pasti ditutup, tidak ada lagi quota untuk anak baru. Antara yakin dan tidak, kami mencoba mencari sekolah-sekolah SD disekitar tempat tinggal kami, apa masih ada yang mau menerima murid baru?

Kebanyakan sekolah sudah tak menerima murid baru, cuma ada 2 sekolah Islam swasta yang masih menerima, tapi akhirnya saya menolaknya, pertimbangannya:
  1. Sekolah yang pertama: Sekolah Islam yang menekankan bahasa Arab dan hafalan ayat. Ga cocok buat anak saya yang kondisinya seperti itu, baca dan tulis aja masih megap-megap, eh disuruh pulak belajar bahasa Arab dan hafalan, mana pulangnya jam 12 siang lewat lagi. Gila...
  2. Sekolah yang kedua: Sekolah Islam juga, tapi uang pendaftarannya itu, bujubuset 4 juta. Mahal amat. Emang anak tamatan dari situ dijamin jadi profesor apa?
Kami putuskan untuk mencari sekolah lain saja. Dengan membawa sikecil yang masih memakai seragam sekolahnya, kami berkeliling mencari sekolah yang masih mau menerima anak saya.

Sepertinya tidak ada lagi. Setelah berkeliling, kami tidak menemukan sekolah lagi. Hari sudah menjelang sore, kita putuskan untuk mencari esok harinya.

Perasaan kami entah gimana memikirkan si kecil. Dimana nanti dia bersekolah, dan apa iya sekolah itu nanti cocok untuknya? Ditengah perjalanan pulang, kami melihat sebuah spanduk di pinggir jalan, sepertinya info pendaftaran siswa baru. Antara yakin dan tidak, tapi akhirnya saya putar lagi balik motor ke arah spanduk tadi.

Ternyata benar info pendaftaran sekolah, spanduk tadi berada di mulut gang. Apa iya ada sekolah didalam gang tersebut? Penasaran kami masuk juga ke gang dan bertanya kepada warga disana, ternyata memang ada sekolah disana.

Semakin masuk kedalam, kami tidak berada didalam gang lagi, tapi berada di sebuah komplek elit. Bangunan sekolah sudah kelihatan, nampak megah dengan 3 lantai. Saya merasa tidak asing dengan sekolah ini.

Ah benar, ini komplek perumahan elit, dan sekolah tersebut tidak asing bagi saya, karena sering saya lewati. Ga nyangka, gang tadi ternyata tembus ke komplek ini.

Alhamdulillah anak saya diterima disekolah tersebut. Kami ceritakan keadaan si kecil, dan dimaklumi oleh pihak sekolah. Namun tetap ada yang ngeganjal di hati saya, sekolah ini bagus, megah berlantai 3, tapi kenapa sepi? Kalas 1 SD nya saja berjumlah 10 orang (termasuk si kecil). Mulanya saya masih ragu dengan sekolah ini. Tapi akhirnya keraguan saya hilang. Sekolah ini memang benar-benar diberikan Allah untuk si kecil. Dengan jumlah murid yamg sedikit membuat gurunya bisa lebih fokus mengajar si kecil. Dan yang bikin saya tambah yakin, perlakuan guru-guru disana kepada si kecil, apalagi guru walinya yang sayang kepada si kecil. Si kecil mendapatkan pengajaran yang berbeda dengan murid-murid lainnya.

Sekolah ini berdiri ditaqdirkan untuk si kecil dan mungkin untuk si kecil lainnya. Spanduk tadi Allah tunjukkan kepada kami, agar kami membawa si kecil kesana. Dan bukan suatu kebetulan kami menemukan sekolah tersebut.

Kalau melihat anak lain yang bisa beraktifitas sewajarnya, saya jadi minder dan sedih, anak saya tidak seperti anak kebanyakan. Namun saya berusaha menghibur diri dengan melihat sisi kebaikan dan hikmah atas kejadian ini.

Entahlah, gimana pun saya tetap kepikiran? gimana nasib anakku kelak dengan keadaannya seperti itu? Apakah dia akan naik kelas dan bisa akhirnya membaca dan menulis? Semua masih ghaib, masa depan itu ghaib.

Namun saya masih tetap berharap dan menunggu di pintu-Nya, semoga Dia buka kan jalan kemudahan dan kebaikan.

Difan

Menulis itu bukan karena kita tahu banyak, tapi karena banyak hal yang ingin kita tahu

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan sopan dan santun

Previous Post Next Post