Ada satu momen yang selalu jadi kenangan khas bagi saya, dan itu berulang-ulang saya alami ditempat dan waktu yang sama walau lokasi berbeda.
Kenangan itu dipicu puluhan tahun silam, tepatnya di tahun 1989. Saat itu saya bersama keluarga (ibu, almarhumah nenek, dua adik laki-laki saya dan almarhumah kakak, kecuali almarhum ayah, beliau tidak ikut) berada di atas KM Kerinci kalau ga salah, saya sudah lupa. Kita menuju perjalanan dari Medan ke Jakarta dalam rangka liburan sekolah.
Kenangan di kapal laut memang ga ada duanya. Kalau dalam blog, kenangan ini SEO-nya tinggi hingga menempati urutan pertama.
Di kapal laut itu memang banyak hotspot petualangannya: Menikmati pemandangan laut di kafe terbuka paling atas, melihat pulau-pulau di kejauhan, melihat gemerlapnya negeri Singapura di kejauhan malam, berlomba dengan lumba-lumba, menyendiri sambil menikmati hembusan angin laut, hanyuuut pikiran ini kemana-mana. Sepanjang hidup, ada 4 kali saya naik kapal laut dari Medan ke Jakarta. Setelah itu tak pernah lagi.
Nah kenangan yang paling terkesan adalah saat Shubuh di Masjid kapal. Dimana ke adaan laut waktu Shubuh itu gelap pekat, yang kelihatan cuma buih ombak yang memutih. Suasana sepi, hening, yang terdengar hanya bunyi deburan ombak diselingi suara mesin kapal dan mesin pompa air. Bunyi-bunyi ini rasanya relate di keheningan Shubuh.
Saat mengambil wudhu itu sudah dingin rasanya, dan ketika memasuki masjid langsung ditambah dinginnya hembusan AC. Menggigil. Tapi suasana begini yang membuatnya jadi khas. Dari sinilah dimulai kenangan itu.
Dan perasaan itu kembali saya rasakan di setiap masjid rumah sakit tempat anak saya dulu dirawat inap untuk operasi. Lima tahun lamanya keluar masuk rumah sakit dengan suasana yang sama: Shubuh hening, bunyi pompa air di tempat wudhu, hembusan AC yang dingin di Masjid. Karena rasa damai yang sama itulah momen tersebut menjadi spesial di hati saya. Terserahlah kalau saya dianggap aneh, tapi rasanya ga aneh kok?
Jadi sekarang kalau saya memasuki masjid di waktu apa pun sepanjang itu hening dan sepi, momory itu pasti bangkit lagi.
Apalagi saat saya terpuruk di 2024 kemarin, saat saya berjualan batagor, saya selalu singgah di Masjid didekat tempat saya berjualan untuk shalat Zhuhur dan Ashar. Saat memasuki Masjid (sebelum adzan) itu suasananya hening, belum ada jamaah, dan masjid tersebut memang tidak pernah memutar rekaman murottal saat jelang adzan, sebagai gantinya sang muadzin yang membacakan Al-Qur'an, itu damai sekali, suasananya seperti di masjid rumah sakit dulu. Sering saya disini menangis teringat orang yang saya cintai meninggalkan saya, ditambah sepinya penjualan. Klop dah.
Disana saya nggak perlu pura-pura kuat. Saya boleh nangis sepuasnya di pojokan masjid, ditemani suara mesin yang nggak pernah menghakimi.
Melankolis sekali ya? 😀
Setiap suara pompa air itu seperti metronom kehidupan. Ia berdengung stabil, setia, tak peduli siapa yang datang dan pergi. Ia mengalun di latar, sederhana, bahkan mungkin tak dianggap penting oleh orang lain. Tapi bagi saya, suara itu seperti penanda bahwa hidup terus berjalan. Air tetap mengalir. Wudhu tetap bisa diambil. Shalat tetap bisa ditegakkan. Harapan tetap bisa dimulai ulang.
Simfoni pompa air di pelataran subuh itu bukan sekadar bunyi mesin. Ia adalah pengingat bahwa dalam gelap yang pekat sekalipun, selalu ada aliran yang bekerja diam-diam. Selalu ada kehidupan yang terus bergerak, meski hidup serasa berhenti.
Dan mungkin, selama saya masih bisa mendengar suara itu, selama saya masih bisa berdiri mengambil wudhu dalam dingin yang menggigil dan dalam heningnya sepi, selama itu pula saya masih diberi kesempatan untuk berharap.
(Abinya Fathan, Semanggi Cafe, the 6th Ramadhan)
Kenangan itu dipicu puluhan tahun silam, tepatnya di tahun 1989. Saat itu saya bersama keluarga (ibu, almarhumah nenek, dua adik laki-laki saya dan almarhumah kakak, kecuali almarhum ayah, beliau tidak ikut) berada di atas KM Kerinci kalau ga salah, saya sudah lupa. Kita menuju perjalanan dari Medan ke Jakarta dalam rangka liburan sekolah.
Kenangan di kapal laut memang ga ada duanya. Kalau dalam blog, kenangan ini SEO-nya tinggi hingga menempati urutan pertama.
Di kapal laut itu memang banyak hotspot petualangannya: Menikmati pemandangan laut di kafe terbuka paling atas, melihat pulau-pulau di kejauhan, melihat gemerlapnya negeri Singapura di kejauhan malam, berlomba dengan lumba-lumba, menyendiri sambil menikmati hembusan angin laut, hanyuuut pikiran ini kemana-mana. Sepanjang hidup, ada 4 kali saya naik kapal laut dari Medan ke Jakarta. Setelah itu tak pernah lagi.
Nah kenangan yang paling terkesan adalah saat Shubuh di Masjid kapal. Dimana ke adaan laut waktu Shubuh itu gelap pekat, yang kelihatan cuma buih ombak yang memutih. Suasana sepi, hening, yang terdengar hanya bunyi deburan ombak diselingi suara mesin kapal dan mesin pompa air. Bunyi-bunyi ini rasanya relate di keheningan Shubuh.
Saat mengambil wudhu itu sudah dingin rasanya, dan ketika memasuki masjid langsung ditambah dinginnya hembusan AC. Menggigil. Tapi suasana begini yang membuatnya jadi khas. Dari sinilah dimulai kenangan itu.
Dan perasaan itu kembali saya rasakan di setiap masjid rumah sakit tempat anak saya dulu dirawat inap untuk operasi. Lima tahun lamanya keluar masuk rumah sakit dengan suasana yang sama: Shubuh hening, bunyi pompa air di tempat wudhu, hembusan AC yang dingin di Masjid. Karena rasa damai yang sama itulah momen tersebut menjadi spesial di hati saya. Terserahlah kalau saya dianggap aneh, tapi rasanya ga aneh kok?
Jadi sekarang kalau saya memasuki masjid di waktu apa pun sepanjang itu hening dan sepi, momory itu pasti bangkit lagi.
Apalagi saat saya terpuruk di 2024 kemarin, saat saya berjualan batagor, saya selalu singgah di Masjid didekat tempat saya berjualan untuk shalat Zhuhur dan Ashar. Saat memasuki Masjid (sebelum adzan) itu suasananya hening, belum ada jamaah, dan masjid tersebut memang tidak pernah memutar rekaman murottal saat jelang adzan, sebagai gantinya sang muadzin yang membacakan Al-Qur'an, itu damai sekali, suasananya seperti di masjid rumah sakit dulu. Sering saya disini menangis teringat orang yang saya cintai meninggalkan saya, ditambah sepinya penjualan. Klop dah.
Mungkin anda heran, pompa air kan bising, kok jadi bikin damai?
Secara ilmiah saya ga tahu kenapa bisa seperti itu. Mungkin awalnya karena dipicu oleh kenangan saat 1989 silam tadi. Dan kemudian ketika saya mendapatkan suasana yang sama ditempat yang lain, rasa kerinduan itu terulang kembali. Suara pompa air dan heningnya masjid menjadi semacam rest area, tempat istirahat, tempat pulang. Waktu ketika dunia belum ramai oleh ambisi dan kebisingan. Waktu ketika hati lebih jujur berbicara pada dirinya sendiri.Disana saya nggak perlu pura-pura kuat. Saya boleh nangis sepuasnya di pojokan masjid, ditemani suara mesin yang nggak pernah menghakimi.
Melankolis sekali ya? 😀
Setiap suara pompa air itu seperti metronom kehidupan. Ia berdengung stabil, setia, tak peduli siapa yang datang dan pergi. Ia mengalun di latar, sederhana, bahkan mungkin tak dianggap penting oleh orang lain. Tapi bagi saya, suara itu seperti penanda bahwa hidup terus berjalan. Air tetap mengalir. Wudhu tetap bisa diambil. Shalat tetap bisa ditegakkan. Harapan tetap bisa dimulai ulang.
Simfoni pompa air di pelataran subuh itu bukan sekadar bunyi mesin. Ia adalah pengingat bahwa dalam gelap yang pekat sekalipun, selalu ada aliran yang bekerja diam-diam. Selalu ada kehidupan yang terus bergerak, meski hidup serasa berhenti.
Dan mungkin, selama saya masih bisa mendengar suara itu, selama saya masih bisa berdiri mengambil wudhu dalam dingin yang menggigil dan dalam heningnya sepi, selama itu pula saya masih diberi kesempatan untuk berharap.
(Abinya Fathan, Semanggi Cafe, the 6th Ramadhan)
Tags:
Catatan Abi
