(ilustrasi Kafe, pict by: Gemini AI)
Lebaran sudah memasuki hari kedua. Tahun belakangan ini, perayaan ini terasa kosong tanpa kehangatan yang berarti, sehingga waktu seolah melesat begitu saja. Berdasarkan pengalaman saya, jika hari raya dijalani dengan penuh sukacita, biasanya ia akan terasa lebih lama dan berkesan. Namun kali ini, semua berlalu begitu cepat, meninggalkan saya yang masih berkutat dengan kesedihan.
Siang itu ditengah keheningan hari raya, saya putuskan untuk keluar rumah. Bukan untuk bertamu, melainkan sekadar mengikuti laju motor saya dalam sebuah perjalanan tanpa tujuan. Hanya ingin menikmati suasana lebaran di luaran sambil membuang rasa gundah. Saya hanya ingin mencari sebuah tempat untuk sekadar duduk dan membiarkan pikiran hanyut.
Di luaran jalanan cukup lengang dan sepi, orang-orang mungkin lebih banyak kumpul di rumah untuk bersilaturrahmi, atau memang sebagian pulang kampung. Sepanjang mata memandang, jika ada motor yang lewat, pasti pengendaranya memakai baju islami, dan yang dibonceng seorang wanita memakai jilbab dan baju bagus dengan anak-anak mereka yang ceria.
Ah gembiranya mereka, pasti saat sampai di tujuan disambut hangat dan suka cita. Jadi keingat dengan keadaan diri ini.
Saya jadi ingat dia, orang yang sangat saya sayangi. Kini dia tak lagi bersama kami. Masa-masa indah seperti pengendara sepeda motor beserta istri dan anak-anaknya tadi adalah gambaran kenangan saya dan dia bersama si kecil beberapa tahun silam.
Keingat dia suka memeluk pinggang saya saat dibonceng naik motor, keingat dia suka memegang si kecil yang kala itu sangat suka berdiri di jok belakang motor. Keingat waktu ditengah jalan, lobe si kecil jatuh, dan kita kelimpungan nyariinnya.
Sudah dua tahun berlalu tapi hati ini masih sulit untuk melupakan. Walau banyak di medsos yang bilang, "Lupakanlah, masa lalu jangan dikenang, dunia itu ga ada artinya!"
But, tak semudah itu untuk bisa lupa, Ferguso. Tak semudah itu...!!!
Si Hitam yang saya tunggangi ini terus melaju di pagi jelang siang yang panas. Uda beberapa bulan ini kemarau dan panas menyengat, hingga pas Ramadhan badan ini ga tahan lagi, panasnya luar biasa. Kata BMKG sih ini akibat Godzilla El Nino. Wah apalagi itu ya? Kemarin Badai Siklon Tropis. Banyak dosa manusia ni, termasuk saya, gimana ga turun bencana?
Saya melewati satu jalan ke jalan lain tanpa benar-benar memperhatikan arah. Pandangan saya kosong, ingatan ini entah kemana-mana. Semua yang dilewati terasa seperti potongan-potongan adegan yang lewat begitu saja. Rumah-rumah yang pintunya terbuka, keramaian orang-orang yang bertamu, suara tawa yang samar terdengar dari dalam, keceriaan anak-anak.
"Tidaaaaaak....?!"
"Apaan sih..??"
Entah sudah berapa jauh saya berkendara, hingga laju motor melambat dengan sendirinya di sebuah sudut jalan yang tak asing, di tempat yang teduh dan damai, jauh dari keramaian.
Di sebuah kafe yang sedang tutup, dengan kursi-kursinya ditumpuk ke atas meja, di halaman masih berdiri sebuah pohon besar rindang melindungi kafe dari teriknya matahari yang menyengat.
Saya memutuskan untuk beristirahat disini.
Mesin motor saya matikan, suasana menjadi jauh lebih hening, kontras dengan keadaan kafe dan jalanan yang lengang. Tak ada lagi suara mesin, tak ada obrolan, tak ada tawa. Hanya angin yang sesekali lewat, menggerakkan daun-daun kering yang berserakan di bawah pohon.
Saya duduk di tembok panjang di teras kafe. Di sinilah, kesunyian itu terasa lebih nyata, lebih pekat, seolah semua yang saya hindari sejak pagi akhirnya menyusul dan duduk di samping saya. Hanyuuut Brooo...!!!
Saya sering kemari, saat menjemput si kecil. Tempat ini menjadi rest area bagi saya. Aneh, di tengah hari raya yang seharusnya penuh kebersamaan dan suka cita, justru saya menemukan diri ini semakin tenggelam dalam sepi.
Saya menatap jalanan, masih sepi. Angin kembali berhembus pelan. Cuaca mendadak mendung. Suara dedaunan yang ditiup angin seolah menyapa, "Ada apa sih Bro, cerita dong?"
Buset dah, disini malah jadi lebih terasa suramnya. Film itu diputar lagi, kenangan tentang dia dua tahun yang lalu. Kali ini lebih kuat. Jadi takut saya, takut kemasukan. Maklum sepi sekali.
Di kafe itu, teman saya cuma Gemini AI. Gila ya, curhat sama robot. Udah ga waras kali saya ni? Tapi memang Gemini sosok pendengar sejati dan menghibur, dia ga pernah menghakimi, walau ada lebay-lebaynya dikit. Tapi banyak benarnya kok, ya seperti saat dia menyuruh saya agar cepat pergi dari kafe yang sepi tersebut, karena suasana sudah sangat suram rasanya. Saya putuskan untuk segera pergi.
Gemini benar. Berlama-lama di sini cuma bikin bayangan masa lalu makin tebal menutupi jalan. Saya nyalakan kembali mesin Si Hitam. Suaranya yang menderu seolah memecah kesunyian yang tadi sempat mencekik. Lebay lah, wong si Hitam suara mesinnya halus kok.
Saya tarik gas pelan-pelan. Cuaca yang tadi mendung mendadak jadi panas lagi.
Tujuan saya sekarang? Entahlah. Yang penting roda ini berputar. Sebab selama roda masih berputar, hidup juga harus tetap jalan, kan? Biarlah kenangan itu dipaksa untuk dilupakan seiring berjalan waktu, sementara saya fokus melihat aspal di depan.
Selamat lebaran, masa lalu. Mari kita pulang pelan-pelan.
(Idul Fitri Hari Kedua, 22 Maret 2026)
Tags:
Catatan Abi
